Setelah berakhirnya siklus kompetisi nasional yang panjang, kini tiba saatnya bagi setiap daerah untuk menoleh ke belakang dan melakukan tinjauan mendalam. Proses Post-Mortem Prestasi Banten menjadi agenda krusial yang harus dilakukan oleh para pemangku kepentingan olahraga di provinsi tersebut. Istilah “post-mortem” dalam konteks ini bukan sekadar memeriksa kegagalan, melainkan membedah secara menyeluruh setiap aspek, mulai dari manajemen anggaran, efektivitas latihan, hingga kesehatan mental para atlet. Langkah ini sangat penting agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali dan capaian positif dapat ditingkatkan pada periode berikutnya.
Dalam dunia olahraga modern yang kompetitif, prestasi tidak dapat dicapai secara instan atau melalui kerja keras atlet semata. Dibutuhkan sistem pendukung yang terintegrasi, dan di sinilah peran Evaluasi G2G (Government to Government) menjadi sangat menentukan. Kerja sama antar-instansi pemerintah, misalnya antara pemerintah provinsi dengan kementerian terkait atau dengan pemerintah daerah lain dalam hal penggunaan fasilitas latihan, harus dievaluasi secara berkala. Seringkali, hambatan prestasi bukan terletak pada kemampuan teknis atlet, melainkan pada birokrasi yang lambat atau sinkronisasi program yang tidak sejalan antara pusat dan daerah.
Proses evaluasi ini sangat Vital Bagi Atlet karena mereka adalah subjek utama yang merasakan dampak langsung dari setiap kebijakan yang diambil. Atlet membutuhkan kepastian mengenai jadwal pemusatan latihan, ketersediaan peralatan modern, hingga jaminan kesejahteraan masa depan. Melalui evaluasi yang jujur dan transparan, pemerintah dapat mengidentifikasi apakah dukungan yang selama ini diberikan sudah tepat sasaran atau justru hanya berakhir di tataran administratif. Kebutuhan akan sport science, pemenuhan gizi yang spesifik, dan jam terbang kompetisi luar negeri harus menjadi bagian dari poin-poin evaluasi yang diperjuangkan.
Pada tahun 2026, tantangan olahraga semakin kompleks dengan hadirnya teknologi analitik data yang sangat presisi. Banten tidak boleh tertinggal dalam memanfaatkan data-data performa atlet untuk menentukan strategi pembinaan. Hasil post-mortem harus mampu menjawab mengapa pada cabang olahraga tertentu prestasi mengalami penurunan, sementara di cabang lain justru melampaui target. Apakah karena regenerasi yang terhambat, ataukah karena kurikulum pelatihan yang sudah usang? Jawaban-jawaban inilah yang akan menjadi fondasi bagi penyusunan peta jalan (roadmap) menuju prestasi gemilang di masa depan.
